Jumat, 28 Agustus 2009

BETERNAK KAMBING ETAWA

BETERNAK KAMBING PERANAKAN ETAWA PENGHASIL SUSU

Pengembangan ternak kambing PE sebagai penghasil susu untuk meningkatkan populasi, produksi dan produktifitasnya akan dapat membantu mengatasi masalah penyediaan susu dalam negeri, memenuhi kebutuhan nasional melalui program pemerintah.

Produksi susu segar dalam negeri baru memenuhi 25% dari kebutuhan nasional yang sentra produksinya masih terkonsentrasi di Pulau Jawa (70%) dari produksi dalam negeri. Produksi susu tersebut boleh dikatakan keseluruhan atau sebagian besar adalah dari ternak sapi perah, padahal susu bukan hanya dapat dihasilkan dari ternak sapi perah, tetapi juga dapat dihasilkan dari kambing perah yang pupulasinya di Indonesia cukup banyak yang masih dapat dikembangkan untuk meningkatkan populasi, produksi dan produktifitasnya melalui program pemerintah dengan meningkatkan peran para pemangku kepentingan khususnya penyuluh pertanian.

Kambing perah di Indonesia yaitu kambing Peranakan Etawa (PE), merupakan keturunan kambing Etawa dari India, dibawa oleh Belanda pada jaman penjajahan, dikawinkan dengan kambing kacang dan berkembang sebagai kambing penghasil susu, sehingga bentuk tubuh, sifat dan ciri-cirinya berada di antara kambing Etawa dan kambing kacang, yaitu: Bentuk kepala bagian hidung ke atas melengkung atau cembung, telinga panjang menggantung ke bawah, bulu yang indah dan warnanya beragam dari belang putih, merah coklat, bercak hitam atau kombinasi ketiganya, pada bagian belakang memiliki bulu yang panjang dan tebal.

BIBIT DAN REPRODUKSI
Kambing PE berbadan besar, berat badan betina kurang lebih 25 kg dan jantan kurang lebih 35 kg, tinggi gumba yang betina kurang lebih 60 cm dan yang jantan kurang lebih 70 cm. Jantan maupun betina memiliki tanduk pendek dan ramping. Kambing PE dapat menghasilkan anak antara 1–4 ekor per kelahiran atau rata-rata dua ekor. Waktu kawin kambing PE yang baik pada usia 15–18 bulan, karena pada waktu itu alat reproduksinya sudah berkembang sempurna.

Calon induk dan pejantan dipilih berdasarkan catatan produksi. Calon induk yaitu: bobot lahir antara 1,8 - 2 kg; berat sapih antara 6-8 kg; berat umur satu tahun (yearling) antara 20 - 25 kg; pertambahan berat badan harian antara 80 - 120 g/ekor/hari, jumlah anak sekelahiran (litter size) 1,5-1,8 ekor/induk; umur antara 8-12 bulan; mempunyai efisiensi reproduksi yang baik; tubuh tegap, sehat, lincah, dan tidak cacat; tidak pernah terserang penyakit; bentuk ambing simetris, sedikit menggantung, dan puting susu normal (tidak bercabang); bentuk punggung lurus; dan bulu mengkilap.

Calon pejantan yaitu: umur antara 1,5-3 tahun; penampilan bagus dan tegap; memiliki catatan atau informasi produksi maupun reproduksi yang superior, yaitu berasal dari induk yang jumlah anak (litter size) 1,5 - 1,8 ekor/induk, pertambahan berat badan harian (80-120 g/ekor/hari), bentuk scrotum simetris dan mempunyai panjang lingkar 28-30 cm dan tidak nampak bekas abses permanen pada kulitnya, libido tinggi, motilitas sperma 90% dan progresif.

Dewasa kelamin pada umur sekitar 10 bulan, kemudian dapat dikawinkan pada umur 10-12 bulan dengan berat badan sekitar 55 kg. Lama birahi sekitar 35 jam, siklus birahi berselang selama 3 minggu. Pada saat birahi merupakan saat yang tepat untuk dikawinkan, dengan tanda-tandanya yaitu: gelisah, nafsu makan dan minum menurun, ekor sering dikibaskan, sering kencing, kemaluan bengkak dan diam bila dinaiki. Masa bunting sekitar 5 bulan, serta masa melahirkan, penyapihan dan istirahat ± 2 bulan. Diusahakan agar kambing bisa beranak minimal 3 kali dalam dua tahun.

sumber : http://www.sinartani.com

Rabu, 17 Desember 2008

Pintar Memilih Program Perkantoran

Godaan berpuluh kemampuan

Perangkat lunak aplikasi perkantoran yang memiliki beragam kemampuan telah umum dipergunakan dalam pekerjaan sehari-hari. Tanpa terasa keberadaan suatu jenis perangkat lunak bagaikan kewajiban tanpa adanya pilihan lain atau pertimbangan kebutuhan pengguna tersebut. Bahkan seringkali pemilihan suatu perangkat lunak mendorong pembelian perangkat keras tambahan. Akibatnya dana yang dikeluarkan untuk memenuhi hal ini makin bertambah tinggi (sebagai perbandingan 2 tahun lalu perangkat lunak word processing hanya membutuhan maksimum RAM 4 MB, tetapi perangkat lunak word processing terbaru membutuhkan minimal RAM 64 MB). Akibat tingginya pengeluaran untuk pembelian perangkat keras ini, menyebabkan orang berfikir mengenai produktifitas yang dapat ditimbulkan dengan pemakaian perangkat lunak ini. Pemanfaatan TI dan kenaikan produktifitas sudah sering dibahas dan lazim dikenal dengan istilah paradoks produktifitas dalam pemanfaatan TI (Brynjolfsson dan Yang, 1996).
Tidak dipungkiri lagi, bahwa keragaman dan kelengkapan kemampuan-lah yang kadang sering membuat orang 'lupa diri' dan rela untuk membayar mahal. Di samping itu juga faktor 'ikut-ikutan' menggunakan suatu aplikasi yang terlanjur populer. Hal ini jugalah yang membuat orang segan berpindah ke platform lainnya. Akan tetapi setelah mengamati dampak dari kelatahan ini apakah, tindakan tersebut tetap dibenarkan ? Lebih buruk lagi, pertimbangan yang berdasarkan kelatahan tersebut menimbulkan dampak negatif, yaitu menjadikan orang melakukan jalan pintas dengan melakukan pembajakan karena ketidak mampuan membeli perangkat lunak asli.
Sebetulnya perilaku user ini dapat dipahami (walau belum tentu tepat). Berdasarkan konsep Technology Acceptance Model (TAM) yang diturunkan dari Theory of Reasoned Action (TRA) (Morris dan Dillon, 1997), seseorang akan memilih suatu bentuk teknologi atau misalnya dalam hal ini software berdasarkan :
  • Anggapan kemudahan penggunaan dari software tersebut. Sayangnya seringkali timbul penilaian kemudahan cenderung sering tertukar dengan anggapan kemudahan di saat awal mempelajari suatu program, bukan kemudahan dalam melakukan pekerjaan. Suatu program yang awalnya mudah dipelajari belum tentu akan memberikan kemudahan dalam pengoperasiannya.
  • Anggapan akan kegunaan dari software tersebut. Seringkali dalam menilai sisi ini, user hanya melihat kepada jumlah fungsi yang ada. Sehingga beranggapan semakin banyak fungsi akan semakin berguna, tanpa melakukan perbandingan dengan kebutuhannya sendiri.

Sehingga user cenderung memilih suatu perangkat lunak yang dalam bayangannya akan memberikan kemudahan di masa mendatang. Bayangan ini terbentuk baik secara pemahaman ikut-ikutan ataupun akibat strategi pemasaran produk perangkat lunak tersebut. Walaupun dengan penerimaan pengguna yang positif dan menunjukkan intensi sangat kuat dari pengguna untuk menggunakannya di kemudian hari, ternyata hal ini tetap belum tentu menjamin akan kesuksesan pelaksanaan tugas dari perangkat lunak tersebut.